Kisah Natal 4

Written By Amateur Person on Tuesday, December 9, 2008 | 7:42 PM

Di Jerman tinggal seorang tukang arloji. Namanya Herman Josep. Dia
tinggal
di sebuah kamar yang sempit. Di kamar itu ada sebuah bangku kerja,
sebuah
lemari tempat kayu dan perkakas kerjanya, sebuah rak untuk tempat
piring dan
gelas serta tempat tidur lipat di bawah bangku kerjanya.

Selain puluhan arloji yang sudah dibuatnya tidak ada barang berharga
lain
di kamarnya. Di jendela kaca kamar itu Herman menaruh sebuah jam
dinding paling
bagus untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat. Herman adalah
seorang
tukang arloji yang miskin. Pakaiannya compang-camping. Tetapi dia
baik hati.
Anak-anak di sekitar rumah menyukainya. Kalau permainan mereka rusak,
Herman
biasa diminta memperbaiki. Herman tak pernah minta satu sen pun untuk
itu.
"Belilah makanan yang enak atau tabunglah uang itu untuk hari Natal."
Ini jawaban yang Herman selalu berikan.

Sejak dulu penduduk kota itu biasa membawa hadiah Natal ke kathedral
dan
meletakkannya di kaki patung Maria yang sedang memangku bayi Yesus.
Setiap
orang menabung supaya bisa memberi hadiah yang paling indah pada
Yesus. Orang-orang
bilang, kalau Yesus suka hadiah yang diberikan kepada-Nya, Ia akan
mengulurkan
tangan-Nya dari pelukan Maria untuk menerima bingkisan itu. Tentu
saja ini
legenda. Belum pernah terjadi bayi Yesus dalam pelukan Maria
mengulurkan tangan
menerima bingkisan Natal untuk-Nya.

Meskipun begitu penduduk kota itu selalu berusaha membawa bingkisan
yang
paling indah. Para penulis puisi membuat syair-syair yang aduhai.
Anak-anak
juga tidak ketinggalan. Setiap orang berlomba memberikan yang terbaik
pada
Yesus di Hari Natal. Siapa tahu, kata mereka, Yesus mengulurkan
tangan menerima
pemberian itu. Orang-orang yang tidak punya bingkisan, pergi ke
Gereja untuk
berbakti pada malam Natal sekaligus menilai bingkisan mana yang
terindah.
Herman, tukang arloji, adalah salah seorang yang hanya pergi untuk
berbakti
dan menonton.

Pernah ada seorang teman mencegah Herman dan bertanya: "Kau
tidak tahu malu. Tiap tahun kau tak pernah membawa bingkisan Natal
buat Yesus?" Pernah satu kali panitia Natal bertanya: "Herman!
Mana bingkisan Natal darimu? Orang-orang yang lebih miskin dari
kau saja selalu bawa." Herman menjawab: "Tunggulah, satu
ketika saya akan bawa bingkisan." Tapi sedihnya, tukang arloji
ini tak pernah punya apa-apa untuk Yesus. Arloji yang dibuatnya
dijual dengan harga murah. Kadang-kadang ia memberikan gratis pada
orang yang benar-benar perlu.

Tetapi dia punya ide. Tiap hari ia bekerja untuk bingkisan natal itu.
Tidak
satu orangpun yang tahu ide itu kecuali Trude, anak perempuan
tetangganya.
Trude berumur 7 tahun waktu ia tahu ide Herman. Tetapi setelah Trude
berumur
31 tahun bingkisan itu belum selesai. Herman membuat sebuah jam
dinding. Mungkin
yang paling indah dan belum pernah ada. Setiap bagian dikerjakan
dengan hati-hati
dan penuh kasih. Bingkainya, jarum-jarumnya, beratnya, dan yang
lainnya diukir
dengan teliti. Sudah 24 tahun Herman merangkai jam dinding itu.

Masuk tahun ke-25 Herman hampir selesai. Tapi dia juga masih terus
membantu
memperbaiki mainan anak-anak. Perhatiannya pada hadiah Natal itu
membuat dia
tidak punya cukup waktu untuk buat arloji dan menjualnya. Kadang
Herman tidur
dengan perut kosong. Ia makin tambah kurus tetapi jam dindingnya
makin tanbah
cantik. Di jam dinding itu ada kandang, Maria sedang berlutut di
samping palungan
yang di dalamnya terbaring bayi Yesus. Di sekeliling palungan itu ada
Yusuf
serta tiga orang Majus, gembala-gembala dan dua orang malaikat. Kalau
jam
dinding itu berdering, orang-orang tadi berlutut di depan palungan
Yesus dan
terdengar lagu "Gloria in Excelsis Deo".

"Lihat ini!" kata Herman pada Trude. "Ini berarti
bahwa kita harus menyembah Kristus bukan hanya pada hari Minggu atau
hari raya
tetapi pada setiap hari dan setiap jam. Yesus menunggu bingkisan kita
setiap detik." Jam dinding itu sudah selesai. Herman puas. Ia menaruh
benda itu di jendela kaca kamarnya supaya bisa dilihat orang. Orang-
orang
yang lewat berdiri berjam-jam mengagumi benda itu. Mereka sudah
menduga bahwa ini pasti bingkisan Natal dari Herman. Hari Natal
sudah tiba. Pagi itu Herman membersihkan rumahnya. Ia mengambil
pakaiannya
yang paling bagus. Sambil bekerja ia melihat jam dinding itu.
Ia takut jangan-jangan ada kerusakan. Dia senang sekali sehingga ia
memberikan
uang yang dia miliki kepada pengemis-pengemis yang lewat di rumahnya.

Tiba-tiba ia ingat, sejak pagi dia belum sarapan. Ia segera ke pasar
untuk membeli sepotong roti dengan uang terakhir yang ada padanya.
Di lemarinya ada sebuah apel. Ia mau makan roti dengan apel itu.
Waktu dia buka pintu, Trude masuk sambil menangis. "Ada apa?"
tanya Herman. Suami saya mengalami kecelakaan. Sekarang dia di RS.
Uang yang kami tabung untuk beli pohon Natal dan kue harus saya
pakai untuk bayar dokter. Anak-anak sudah menuggu hadiah Natal.
Apa lagi yang harus saya berikan untuk mereka?"

Herman tersenyum. "Tenanglah Trude. Semua akan beres. Saya akan jual
arloji saya yang masih sisa. Kita akan punya cukup uang untuk
beli mainan anak-anak. Pulanglah."

Herman mengambil jas dinginnya lalu pergi ke pasar dengan satu jam
tangan yang unik. Ia tawarkan jam itu di toko arloji. Tapi mereka
tidak
berminat. Ia pergi ke kantor gadai tapi pegawai-pegawai bilang
arloji itu kuno. Akhirnya ia pergi ke rumah walikota. "Tuan, saya
butuh uang untuk membeli mainan bagi beberapa anak. Tolong beli
arloji ini?"
Pak walikota tertawa. "Saya mau beli arloji tetapi bukan
yang ini. Saya mau jam dinding yang ada di jendela kaca rumahmu.
Berapapun
harganya saya siap." "Tidak mungkin tuan. Benda itu
tidak saya jual.""Apa? Bagi saya semua mungkin. Pergilah sekarang.
Satu jam
lagi saya akan kirim polisi untuk ambil jam dinding itu dan kau dapat
uang
1000 dolar."

Herman pergi sambil geleng-geleng kepala. "Tidak mungkin!
Saya mau jual semua yang saya punya. Tapi jam dinding itu tidak. Itu
untuk
Yesus." Waktu ia tiba dekat rumah, Trude dan anak-anaknya
sudah menunggu. Mereka sedang menyanyi. Merdu sekali. Baru saja Herman
masuk, beberapa orang polisi sudah berdiri di depan. Mereka berteriak
agar pintu dibuka. Jam dinding itu mereka ambil dan uang 1000
dolar diberikan pada Herman. Tetapi Herman tidak menerima uang itu.
"Barang itu tidak saya jual. Ambillah uang itu," teriak
Herman sedih. Orang-orang itu pergi membawa jam dinding serta uang
tadi. Pada
waktu itu lonceng gereja berbunyi. Jalan menuju kathedral penuh
manusia.
Tiap orang membawa bingkisan di tangan.

"Kali ini saya pergi dengan tangan kosong lagi", kata
Herman sedih. "Saya akan buat lagi satu yang lebih cantik." Herman
bangkit untuk pergi ke gereja. Saat itu ia melihat apel di dalam
lemari. Ia
tersenyum dan meraih apel itu. "Inilah satu-satunya yang
saya punya, makanan saya pada hari natal. Saya akan berikan ini pada
Yesus.
Itu lebih baik dari pada pergi dengan tangan kosong."

Katedral penuh. Suasana bukan main semarak. Ratusan lilin menyala
dan bau kemenyan terasa di mana-mana. Altar tempat patung Maria
memangku bayi Yesus penuh dengan bingkisan. Semuanya indah dan mahal.
Di situ juga ada jam dinding buatan tukang arloji itu. Rupanya Pak
walikota mempersembahkan benda itu pada Yesus. Herman masuk. Ia
melangkah dengan kaki berat menuju altar dengan memegang apel. Semua
mata tertuju padanya. Ia mendengar mereka mengejek, makin jelas.
"Cih! Dia memang benar-benar pelit. Jam dindingnya yang indah
dia jual. Lihatlah apa yang dia bawa. Memalukan!"

Hati Herman sedih, tetapi ia terus maju. Kepalanya tertunduk.
Ia tidak berani memandang orang sekeliling. Matanya ditutup. Tangan
yang kiri diulurkan ke depan untuk membuka jalan. Jarak altar masih
jauh. Herman tahu bahwa ia harus naik anak tangga untuk sampai ke
altar.
Sekarang kakinya menyentuh anak tangga pertama. Herman berhenti
sebentar. Ia tidak punya tenaga lagi. Sejak pagi dia belum makan
apa-apa. Ada tujuh anak tangga. "Dapakah saya sampai ke altar
itu?"

Herman mulai menghitung. Satu! Dua! Tiga! Empat! lalu ia terantuk
dan hampir terguling ke bawah. Serentak semua orang berkata:
"Memalukan!" Setelah mengumpulkan sisa tenaga Herman
bergerak lagi. Tangga kelima. Kedengaran suara mengejek: "Huuuu!"
Herman naik setapak lagi. Tangga keenam. Omelan dan ejekan orang-orang
berhenti. Sebagai gantinya terdengar seruan keheranan semua orang yang
hadir. "Mujizat! Sebuah mujizat!!!"

Hadirin seluruhnya turun dari kursi dan berlutut. Imam merapatkan
tangannya dan mengucapkan doa. Herman, tukang arloji yang miskin
ini menaiki anak tangga yang terakhir. Ia mengangkat wajahnya. Dengan
heran ia melihat patung bayi Yesus yang ada di pangkuan Maria
sedang mengulurkan tangan untuk menerima bingkisan Natal darinya. Air
mata menetes dari mata tukang arloji itu. Inilah hari Natal yang
paling
indah dalam hidupnya.

- Diterjemahkan oleh: Eben Nuban Timo dari buku "Het Hele Jaar
Rond. Van sinterklaas tot sintemaarten." Disunting oleh Marijke
van Raephorst (Rotterdam: Lemniscaat, 1973), hal. 61-66
-------
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan
mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Mat 7:7

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...